05 Desember 2011
Ironi Dunia Pendidikan
Berita tak mengenakkan selalu kita dengar dari para mahasiswa yang lagi Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengenai kehidupan masyarakat pedesaan yang kurang sadar akan dunia pendidikan. Hanya segelintir saja anak-anak lulusan SD yang melanjutkan ke SMP. Kebanyakan dari mereka langsung menikah dan bekerja. Orang tua mereka beranggapan bahwa lebih baik membeli perlengkapan rumah tangga daripada untuk membiayai sekolah anak mereka. Bisa dibayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka dari TK hingga sarjana, atau, mungkin, program doktoral? Bagi seorang buruh tani atau perkebunan, Lima belas ekor sapi tidaklah cukup! Padahal hampir mustahil seorang buruh tani memiliki sapi sebanyak itu. Biaya pendidikan yang selangit itu terlalu mahal jika hanya ditukar dengan selembar ijazah untuk nasib anak mereka yang masih samar.
Cara pandang masyarakat kita sungguhlah logis. Pemenuhan kesejahteraan lebih penting ketimbang konsumsi pengetahuan konseptual yang menurut mereka sangat abstrak. Realistis saja, jika dikalkulasi secara ekonomis, berapa dia akan dihargai di negeri ini jika si anak berhasil meraih gelar doktor?? Apa yang bisa dia kerjakan? Sungguh Tak kembali modal !!! dan sang bapak tak pernah bisa menikmati hasil kerja kerasnya membiayai pendidikan si anak. Cukupkah hanya dengan sebuah kebanggaan? Bukankah itu hanya pencitraan yang kita buat untuk sekedar menghibur???? Dan masyarakat buruh tani dan perkebunan, tak mempan oleh imagologi. Sungguh Ironis !!!!
Dan Itulah salah satu ironi dunia pendidikan kita. Karena itu, bagaimana anak-anak mereka seharusnya dididik? Adakah konsep pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka?
Cara pandang masyarakat kita sungguhlah logis. Pemenuhan kesejahteraan lebih penting ketimbang konsumsi pengetahuan konseptual yang menurut mereka sangat abstrak. Realistis saja, jika dikalkulasi secara ekonomis, berapa dia akan dihargai di negeri ini jika si anak berhasil meraih gelar doktor?? Apa yang bisa dia kerjakan? Sungguh Tak kembali modal !!! dan sang bapak tak pernah bisa menikmati hasil kerja kerasnya membiayai pendidikan si anak. Cukupkah hanya dengan sebuah kebanggaan? Bukankah itu hanya pencitraan yang kita buat untuk sekedar menghibur???? Dan masyarakat buruh tani dan perkebunan, tak mempan oleh imagologi. Sungguh Ironis !!!!
Dan Itulah salah satu ironi dunia pendidikan kita. Karena itu, bagaimana anak-anak mereka seharusnya dididik? Adakah konsep pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
tanpa merubah paradigma orangtua tentang betapa pentingnya pendidikan apalah artinya mencari konsep pendidikan yang cocok bagi mereka. Seorang anak akan merasa yakin pada langkahnya ketika doa, restu orang tua mengiringinya
Posting Komentar